tentang luka
Tuesday, November 04, 2008
kita mungkin mendapat ajaran yang salah, maksudku bukan salah tapi tidak pas, bahwa perih adalah musuh besar yang harus kita tentang, atau hindari aja sekalian, sejauh mungkin. bagaimana bisa hidup dengan sebenar-benarnya? sehidup-hidupnya, jika sepanjang hidup menghindari luka? tiarap lalu cari tempat gelap.
banyak orang memutuskan mengakhiri hidupnya karena luka. ironis menurutku, orang-orang yang tidak bisa berdamai dengan luka justru gagah-gagahan menunjukan bahwa dia tak takut mati (tapi tak pernah menunjukan kalau dia tak takut hidup).
berani hidup dengan senyum penuh atau berani mati tanpa banyak keluh, itu baru gagah.
ya luka itu menyakitkan, dan hanya jika kita bisa menikmati, luka justru akan mengajarkan kita banyak hal, mendewasakan, membebaskan kita dari hidup dalam perspektif tidak mau mengerti, menuntun kita pada kekuatan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
katakan selamat datang pada luka
biarlah diri menyadarkan diri
terluka? itu pasti, tapi menderita adalah pilihan. jangan tepis lukamu jangan tutupi perihmu, walau demikian pedih bukan seperti piala yang harus kita angkat tinggi-tinggi, jadikan itu sebagai senyum yang tak tercatat.
karena,
sebagian hidup seindah bekas luka.







